Waktu pembebasan:2026.01.26 Tampilkan volume: 240
Pada tanggal 26 Januari, Fan Shunke, Wakil Sekretaris Komite Partai China Nonferrous Metals Industry Association sekaligus Ketua China Nonferrous Metals Fabrication Industry Association, bersama rombongannya mengunjungi Kawasan Industri Bintan Indonesia untuk melakukan penelitian khusus terkait strategi pengembangan industri aluminium di luar negeri oleh Nanshan Aluminum International dan PT. Bintan Alumina Indonesia, termasuk operasional produksi perusahaan, sinergi rantai industri, serta pengembangan hijau dan rendah karbon.
Hao Weisong, Ketua Dewan Direksi sekaligus Chief Executive Officer Nanshan Aluminum International, mewakili perusahaan menyampaikan sambutan hangat atas kunjungan delegasi dari China Nonferrous Metals Industry Association dan selanjutnya memperkenalkan secara rinci keunggulan geografis Pulau Bintan di Provinsi Kepulauan Riau serta sejarah perkembangan kawasan industri tersebut. Hao Weisong menyampaikan bahwa Kawasan Industri Bintan Indonesia, sebagai kawasan ekonomi khusus pertama di Indonesia yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan, sejak mulai direncanakan pada tahun 2015 terus berkembang secara stabil dengan mengandalkan model rantai industri terintegrasi “pelabuhan–pusat tenaga listrik–alumina–aluminium elektrolisis.” Saat ini, proyek alumina berkapasitas 4 juta ton beserta proyek pendukungnya telah selesai dibangun dan mulai beroperasi. Ke depannya, kawasan industri akan terus memperluas rantai industrinya untuk membangun basis industri aluminium hijau yang mengintegrasikan produksi alumina dan aluminium elektrolisis.
Sekretaris Fan bersama rombongan secara berturut-turut mengunjungi bengkel produksi, terminal pelabuhan, waduk, ruang pengendali kawasan industri, dan aula pameran perusahaan untuk melakukan inspeksi dan penelitian. Mereka meninjau secara rinci kondisi produksi perusahaan serta teknologi hemat energi dan pengurangan emisi ramah lingkungan, serta memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen kawasan industri dan perusahaan dalam mempertahankan pengembangan hijau dan rendah karbon, mendorong peningkatan industri aluminium, serta langkah visioner dalam secara aktif mengembangkan industri hilir.
Dalam forum diskusi, Sekretaris Fan menganalisis peluang dan tantangan yang dihadapi industri berdasarkan tren perkembangan industri aluminium global saat ini. Terkait pengembangan kawasan industri, Fan Shunke memberikan beberapa arahan: pertama, mempercepat perluasan rantai industri dan sepenuhnya mendorong percepatan operasional proyek aluminium elektrolisis berkapasitas 500.000 ton agar integrasi produksi “alumina–aluminium elektrolisis” dapat segera terwujud, sehingga biaya keseluruhan dapat ditekan melalui sinergi hulu dan hilir sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dan daya saing inti; kedua, memperkuat peran sebagai pelopor pengembangan hijau dan rendah karbon dengan mengacu pada standar perlindungan lingkungan kelas dunia, memperdalam penerapan teknologi seperti substitusi energi bersih, serta membangun basis percontohan industri hijau di luar negeri; ketiga, memperdalam kerja sama dengan asosiasi dan perusahaan Tiongkok melalui pembentukan mekanisme komunikasi rutin untuk segera menangani isu-isu seperti penyesuaian kebijakan dan pencegahan risiko dalam pengembangan industri luar negeri, serta bersama-sama mendorong penyusunan standar internasionalisasi dan ekspansi berkualitas tinggi industri aluminium Tiongkok.
Sekretaris Fan menegaskan bahwa Kawasan Industri Bintan Indonesia, sebagai contoh keberhasilan pembangunan perusahaan Tiongkok di Indonesia, telah mendorong perkembangan ekonomi lokal, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia di Indonesia, sehingga menjadi teladan kerja sama industri yang saling menguntungkan antara Tiongkok dan Indonesia. Ia berharap kawasan industri tersebut terus memanfaatkan keunggulan sinergi rantai industri, menangkap peluang transformasi hijau industri aluminium global, mencapai terobosan baru dalam pengembangan industri aluminium luar negeri, serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pengembangan berkualitas tinggi industri logam nonferrous Tiongkok.
Li Defeng, Wakil Ketua sekaligus Sekretaris Jenderal Divisi Aluminium China Nonferrous Metals Industry Association, Mo Xinda selaku Direktur Departemen Logam Ringan, Jin Haiming selaku Sekretaris Jenderal, serta perwakilan perusahaan lainnya turut mengikuti kegiatan inspeksi tersebut.
